BUAH HATIKU ADALAH HARTA PALING BERHARGA, BAGIKU.
Sekalipun harta tak bergelimang dalam KEHIDUPAN ini, Namun semua itu tidak akan menyulitkan dan tidak membuat aku merasa miskin, Namun justeru dengan kehadiran mereka dalam kehidupanku telah menjadi penghibur dan pelengkap dikala suka dan duka. Ya Allah, cukupkan rizqi kami untuk mereka, beri kami kesehatan jiwa dan raga kami. Ya Allah, jadikan buah hati kami, Anak-Anak yang berbakti kelak kepada kedua orang tuanya, bangsa, negara dan agama.
Iktiar adalah manivestasi raga,Do`a adalah manivestasi Jiwa.Penyeimbang raga
Pages
Friday, January 22, 2021
Malleha Batavia On Youtube
Sunday, December 20, 2020
Kaidah La Isim Liljinsi Dalam Alfiyah
Hukum-Hukum Amal La Dalam Ilmu Nahwu (Ak Fiyah Ibnu Malik)
عَمل انَّ أجْعَلْ لِلَا فِي نَكِرَه
مُفْرَدَةً جَـاءَتْكَ أَوْ مَـكَرَّرَه
ASSALAMU ALAIKUM WARIHMATULLAH
Hadir dalam kesempatan kali ini saya ingin
mengedukasi kalimat
لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم
dalam kaidah ilmu nahwu yang di terangkan dalam kitab akfiyah ibnu malik bab amal La nafyu jinis yang menasab dengan mabni fathah kan isimnya dan merifa'kan khobarnya.
Berikut dalil yang tertulis dalam bait-bait
ari ieu eta bab kangge mertelakeun lafadz laa anu tetep itu allati pikeun nganafikeun jinis. kedah ngajanteunkeun anjeun kana amal lafadz inna pikeun lafadz laa dina isim nakiroh bari anu dimufrodkuen itu laa parantos datang itu laa ka anjeun atanapi bari anu ditakror itu laa
laa nafyi lil wahdah, amal laisa merofakan isim dan menasaban khobar.
contoh : لَا رَجُلٌ قَائِمًا. rojulun isim laa, qooiman khobar laa.
laa allati linafyil jinsi, laa yang menafyikan pada jenisnya. laa nafyiatul jinsi menafyikan secara keseluruhan. tidak punya sama sekali tidak punya itulah nafyiatul lil jinsi, contoh : لَا فُلُوْسَ, tidak punya 10rb tidak punya 100rb tidak punya uang sama sekali.
jika laa ditakror boleh amal inna boleh amal laisa. laa ditakror contoh : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ عَلِيْهِ العَظِيْمِ. isim nakiroh disebut satu kali, yang kedua bisa disebut dua kali.
فَانْصِبْ بِهَا مُضَافًاً أَوْ مُضَارِعَه وَبَعْدَ ذَاكَ الخَبَرَ اذْكُرْ رَافِعَه
kedah ngajabarkeun anjeun kana isim laa ku lafadz laa bari anu diidhofatkeun itu isim laa atanapi bari anu diidhofatkeun atanapi anu nyarupaan kana mudhof sareng kedah nyarioskeun anjeun kana khobar dina sabada itu nasob bari anu ngarofakeun kana khobar
laa bisa dinasabkan pada mudhof yang idofat. mudhof isim nakirof mudhof ilaihnya nakiroh contoh : laa ghulaama rojulin. laa bisa menasabkan pada sibeh mudhof contoh : لَا طَائِلًا جَبَلًا
laa telah menasabkan isimnya merofakan pada khobarnya conth : لَا غُلَامَ رَجُلٍ. mudhof ilaih isim nakiroh diidhofatkan pada isim nakiroh dinasabkan oleh laa harus merafakan pada khobarnya. لَا غُلَامَ رَجُلٍ حَاضِرٌ. haadirun menjadi khobar laa.
وَرَكِّبِ المُفْرَدَ فَاتِحًا كَـلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ وَالثَّانِي اجْعَـلَا
sareng kedah ngarangkepkeun anjeun kana isim anu mufrod bari anu mabni fathah ari contohna eta tetep sapertos lafadz laa haula wa laa quwwata. sareng kedah ngajanteunkeun saleresna anjeun anu kana isim laa anu kadua.
dan harus merakabkan pada isim laa yang mufrod dimabnikan pada fathah apabila laa yang mufrod harus dimurokabkan antara laa dengan isimnya. contoh : لَا رَجُلَ. laa amil nawasikh, rojula isim laa. dimabnikan pada fathah apabila laa dan isim ditakror isim yang pertama dimabnikan pada fathah, isim yang kedua dirofakan. contoh : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةٌ.
bisa dinasabkan yang keduanya, contoh : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةً.
bisa juga : لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةَ.
boleh juga diatafkan isim yang mahal rofa, contoh : لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةٌ.
ataf yang nasab tidak bisa mengatafkan rofa, tidak bisa : لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةً. .
مَرْفُوْعًاً أَوْ مَنْصُوْبًاً أَوْ مُرَكَّبًا وَإِنْ رَفَعَتْ أَوْلَاً لَا تَنْصِبًـا
kana anu dirofakeun atanapi dijabarkeun atanapi kana anu dirangkepkeun sareng upami ngarofakeun anjeun kana isim laa anu pertama maka ulah ngajabarkeun anjeun kana isim anu kadua
Thursday, December 3, 2020
Ihsan Salah Satu Landasan Agama Islam
Ihsan Salah Satu Landasan Agama Islam
Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu :
]أن تعبد الله كأنك تراه, فإن لم تكن تراه فإنه يراك[.
“Beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”([2]).
Dalilnya, firman Allah ta’aala :
]إن الله مع الذين اتقوا والذين هم محسنون[
“Sesunggunya Allah besama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl : 128 )
]وتوكل على العزيز الرحيم الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين إنه هو السميع العليم[
“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-syuaraa’ : 217-220).
]وما تكون في شأن وما تتلوا منه من قرآن ولا تعملون من عمل إلا كنا عليكم شهودا إذ تفيضون فيه[
“Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur’an yang kamu baca, serta pekerjaan apapun yang kamu kerjakan, tidak lain Kami adalah menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…”. (QS. Yunus : 61).
Adapun dalilnya dari sunnah, ialah hadits jibril([3]) yang masyhur, yang diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab rodhiallohu ‘anhu :
“Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata :
يا محمد, أخبرني عن الإسلام!
“Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam!”.
Maka Nabi menjawab :
أن تشهد أن لا إله إلا الله وان محمدا رسول الله وتقيم الصلاة, وتؤتي الزكاة,وتصوم رمضان, وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا
“Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana.”
Lelaki itupun berkata :
صدقت
“Benarlah engkau.”
Kata Umar : “Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau.” Lalu ia berkata :
أخبرني عن الإيمان!
“Beritahu aku tentang iman!”
Beliau menjawab :
أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره
“Yaitu : beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk.”
Orang itu pun berkata lagi : “Benarlah engkau.” Kemudian ia berkata :
اخبرني عن الإحسان!
“Beritahu aku tentang ihsan!”
Beliau mejawab :
أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
“Yaitu : beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ia berkata lagi :
أخبرني عن الساعة!
“Beritahulah aku tentang waktu kiamat!”
beliau menjawab :
ما المسؤول عنها بأعلم من السائل
“Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu daripada orang yang menanyakannya.”
Maka orang itupun berkata :
أخبرني عن أماراتها!
“Beritahulah aku (sebagian dari) tanda-tanda kiamat itu!”
beliau mejawab :
أن تلد الأمة ربتها, وأن ترى العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان
“Yaitu : apabila ada budak wanita melahirkan tuan puterinya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna, melarat lagi penggembala domba, saling bangga-membanggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi.”
Kata Umar : “Lalu pergilah orang laki-laki itu, sementara kami berdiam diri saja dalam beberapa lama, sehingga Nabi bertanya :
يا عمر, أتدري من السائل؟
“Hai Umar! Tahukah kamu, siapakah orang yang bertanya itu?”
aku menjawab : “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau pun bersabda :
هذا جبريل, أتاكم يعلمكم أمر دينكم

